Kecintaan Sastra Masih Perlu Dibangkitkan

Senin, 19/5/2008

JAKARTA, SENIN-Kecintaan pada sastra, akan bisa membangkitkan semangat berbangsa. Sayangnya, pembaca apalagi penulis sastra makin lama makin sedikit. “Mengapa di bus Pekanbaru-Bukittinggi penumpang tidak membaca kumpulan cerpen, tapi mengisap rokok? kenapa dihalaman kampus yang berpohon rindang, mahasiswa tidak membaca bukuteks kuliah tapi main gaple? Kenapa di ruang tunggu dokterspesialis penyakit jantung di Manado, pengantar pasien tidak membaca buku drama tapi asyik main sms?” inilah pertanyaan dan keprihatinan pada masyarakat Indonesia yang seharusnya menjadi pembaca sastra bangsanya,” ujar budayawan Taufik Ismail dalam diskusi Kebangkitan Nasional, Bahasa, Budaya, dan Kebangkitan Bangsa di Balai Pustaka di Jakarta, Senin (19/8). Diskusi yang dipandu Direktur Utama Balai Pustaka Zaim Uchrowi ini juga menghadirkan Konsultan Buku Pelajaran JD Parera dan Dendy Sugono dari Pusat Bahasa sebagai pembicara. Menurut taufik, banyak membaca, minimal 25 buku dalam 3 tahun di SMA, akan membuat anak-anak mampu mengapresiasi karya sastra. Sebuah karya yang berisi kata-kata indah, dan menyampaikan nilai-nilai luhur, serta sesudah dibaca akan mendorong orang lain untuk menerapkan nilai yang ditulis. Senada Taufik, JD Parera mengatakan, minat baca sastra bisa dibangun melalui pendidikan dan pelajaran. Namun tidak bisa dipaksakan dengan langsung membaca karya sastra klasik seperti Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana. “Bisa dimulai melalui buku yang diakui sebuah komunitas sastra sebagai karya sastra. Setelah itu mundur kebelakang hingga karya sastra klasik,” ujarnya. Menurut Dendy, bahasa yang tidak punya penutur akan hilang. Itu sebabnya, bahasa Indonesia perlu terus dikembangkan kosakatanya. “Saat ini, bahasa di dunia sudah berkurang 50 persen dari total 6700, dan746 bahasa ada di Indonesia. Sayangnya di Indonesiapun, sudah berkurang,” ujar Dendy yang mengatakan bahwa Pusat Bahasa akan kampanye penggunaan bahasa. Jika bisa mengebalikan bahasa Indonesia sebagai roh, maka menurut Dendy, bangsa Indonesia akan makin mempunyai jati diri yang kokoh. (MAM)

Sumber : http://entertainment.kompas.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: